tes

  • Open Group
  • Komunitas Muslim Teknologi Informasi - STMIK Dipanegara Makassar

Minggu, 25 Desember 2011

Dimanakah Cinta Kita?


Oleh : Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi


Di tengah hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersama Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu merasa sangat kehausan di jalan. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Dulu kami saat hijrah, aku dalam keadaan sangat kehausan, maka aku datang dengan membawa segelas susu lalu kuberikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, seraya kukatakan kepada beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam, 'Minumlah wahai Rasulullah!'. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Maka Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam minum hingga aku kenyang".

Janganlah anda mendustakan kedua mata anda dan menyangka bahwa kalimat yang bergaris bawah di atas itu adalah tulisan yang salah. Itu adalah kalimat yang benar, dan dimaksud oleh Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, dan demikianlah yang dikatakan oleh Abu Bakar radhiyallahu 'anhu !!!

Di antara bentuk kecintaannya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam dia merasa kenyang dengan hanya sekedar rasa kenyang yang dirasakan oleh kekasihnya!!!

Apakah anda merasakan keindahan cinta ini? Sesungguhnya itu adalah sebuah cinta yang istimewa!

Jika anda sekalian mendengar sebuah cinta yang melebihi cinta kepada diri sendiri...maka inilah dia cinta itu.

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tidak menghiraukan apa-apa kecuali beliau melanjutkan untaian cintanya yang agung tersebut...

Pada hari Fathu Makkah, Abu Quhafah (ayahnya Abu Bakar radhiyallahu 'anhu) masuk Islam, dan masuk Islamnya sangat terlambat, saat itu dia sudah dalam keadaan buta. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membawanya pergi menuju Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam untuk mengumumkan keislamannya dan membaiat Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam.

Maka bersabdalah Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, "Wahai Abu Bakar, mengapa engkau tidak membiarkan saja ayahmu di rumah, dan kita yang datang kepadanya? Maka Abu Bakar radhiyaallahu 'anhu menjawab, "Anda lebih berhak untuk didatangi wahai Rasulullah".

Maka Abu Quhafah pun masuk Islam. Lantas Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menangis. Orang-orang berkata kepada Abu Bakar, "Ini adalah hari kebahagiaan, ayahandamu telah masuk Islam, dan selamat dari api neraka, maka apakah yang membuatmu menangis?".

Sekarang, mari kita bayangkan, apa kira-kira jawaban Abu Bakar terhadap pertanyaan tersebut?

Dia menjawab, "Aku menangis karena aku menginginkan, seandainya yang membaiat Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam sekarang adalah Abu Thalib, bukan bapakku, tentu hal itu akan lebih membahagiakan Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam...

Subhanallah....!

Kebahagiaan Abu Bakar karena kebahagiaan Nabi lebih besar daripada kebahagiaannya sendiri karena ayahandanya...!

Maka di manakah kita dari cinta seperti ini ?!!!



Sumber : Majalah Qiblati (rubrik 'Nadi Kehidupan')


0 comments:

Posting Komentar