Sabtu, 07 April 2012
Kamis, 09 Februari 2012
Berdoa Saat Sujud Shalat Menggunakan Bahasa Indonesia
Kominfo
Berikut ini kami hadirkan rekaman tanya jawab bersama Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Beliau mendapat pertanyaan sebagai berikut:
Bagaimana cara berdoa ketika sujud dalam shalat, apakah harus berdoa dengan doa yang dicontohkan dalam Alquran dan Sunnah, ataukah boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia?
Semoga jawaban yang beliau sampaikan bermanfaat bagi kaum muslimin.
Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya.
Silakan klik player di bawah ini untuk mendengarkan dan mengunduh jawabannya.
E-Book Adab
NO | JUDUL E-BOOK | DOWNLOAD |
01 | Adab Guru dan Murid Dalam Menghadiri Pelajaran | |
02 | Adab Berpuasa dan Shalat 'Ied | |
03 | Adab Dalam Rumah | |
04 | Adab Menjenguk yang Sedang Sakit | |
05 | Adab Berpergian | |
06 | Adab Berbekam Olahraga dan Berkendara | |
07 | Adab Makan | |
08 | Adab Buang Hajat | |
09 | Adab Memberi Nasehat | |
10 | Adab Duduk didalam Majelis | |
11 | Adab Puasa | |
12 | Adab Memberikan Selamat & Kabar Gembira | |
13 | Adab Jenazah & Ta'ziyah | |
14 | Adab Dalam Perjalanan |
Selasa, 24 Januari 2012
Karakteristik Penghuni Surga
Karakteristik Penghuni Surga
Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i ia berkata, pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya bersabda,
“Penghuni surga itu ada tiga; pertama, penguasa yang adil, jujur, dan mendapat taufik, kedua, seorang yang penyayang dan perhatian kepada setiap kerabat, ketiga, seorang muslim yang suci, pandai menjaga diri, dan memiliki keluarga….” (HR. Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu ia berkata, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Macam-macam umat diperlibatkan keapdaku; aku melihat seorang Nabi beserta sekelompok orang pengikutnya, aku melihat seorang Nabi beserta seorang laki-laki pengikutnya, aku melihat seorang Nabi tanpa ditemani seorang pengiku pun, kemudian diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dengan jumlah yang amat banyak, maka aku berakta, ‘Ini adalah umatku.’ Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah Musa dan umatnya. Tapi, lihatlah ke atas.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Lihatlah ke arah yang lain.’ Seketika terlihat sekelompok umat dengan jumlah yang amat banyak. Kemudian dikatakan, ‘Ini adalah umatmu.’ Bersama mereka 70.000 orang masuk ke dalam surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa.” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu masuk, lalu para shahabat berbicara panjang lebar tentang sabda Nabi tadi. Kemudian mereka berkata, ‘Siapakah mereka yang masuk surga tanpa melalui prosesi hisab dan siksa?’ Sebagian mereka berkata, ‘Barangkali mereka yang menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain berkata, ‘Barangkali mereka yang dilahirkan dalam keadaan Islam, dia tidak pernah menyekutukan Allah.’ Mereka menyebutkan banyak hal. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar kembali (dari kamar beliau) menemui mereka, lalu beliau berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan?’ Mereka pun memberitahukan kepada beliau tentang apa yang mereka perbincangkan antarmereka. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan menggunakan kayy, tidak minta diruqyah (ruqyah yang tidak syar’i), tidak bertathayyur (pesimis karena melihat pertanda buruk), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.’ Kemudian ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi berdiri seraya berkata, ‘Apakah saya termasuk bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. ‘Kamu adalah termasuk bagian dari mereka!’ Lalu sebagian shahabat yang lain (Sa’ad bin ‘Ubadah) berkata, ‘Apakah saya bagian dari mereka, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Berkaitan dengan maksud tawakkal di dalam hadis di atas, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah kondisi hati yang timbul atas pengetahuannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirian dalam mencipta, mengatur, menghilangkan madharat, mendatangkan manfaat, memberi, memboikot pemberian, dan apa yang Dia kehendaki bisa terwujud meskipun manusia tidak menghendakinya, sedangkan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terwujud meskipun manusia menghendakinya. Dengan begitu, ia bersandar sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyerahkan segala hal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa tenang bersama-Nya, percaya sepenuhnya kepada-Nya, yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupinya berdasarkan rasa dan sikap tawakkal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memenuhi kebutuhan orang yang tawakkal itu, tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, baik manusia menginginkannya maupun menolaknya. Kondisi orang yang tawakkal itu seperti kondisi anak kecil di hadapan kedua orang tuanya, dalam perihal sesuatu yang ia niatkan, baik motivasi atau larnagan, maka kedua orang tua itu menanggung sepenuhnya. Perhatikanlah hati anak itu tidak pernah terbesit untuk bersandar kepada selain kedua orang tuanya, dan menahan hasratnya untuk menyampaikan apa yang ia niatkan kepada kedua orang tuanya. Begitu juga kondisi orang yang tawakkal. Barangispa yang memiliki sikap seperti iu dalam berinteraksi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mencukupinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaaq: 3)
Dari Sahal bin Sa’ad ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menjamin (menajga) lisan dan kemaluannya, maka aku menjaminnya untuk masuk jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang oleh Allah dijaga dari kejelekan lisan dan kemaluannya, maka ia akan masuk jannah’.”
Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata,
“Aku pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Pada suatu pagi aku berada di dekat Nabi, sementara kami sedang berjalan kaki, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahulah saya tentang pekerjaan yang bisa memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari neraka.’ Beliau bersabda, ‘Kamu telah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang agung. Sungguh sedikit orang yang dimudahkan oleh Allah untuk bertanya tentang hal itu. (Amal itu adalah) kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat menunaikan zakat, shiyam pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang pintu-pintu kebaikan? Shiyam itu adalah perisai, sedangkan sedekah dapat menghapus dosa, sebagaimana air dapat memadamkan api, serta shalat seseorang pada kesunyian malam (qiyamul lail).’ Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 16-17). Beliau kemudian bersabda, “Maukah kamu jika aku memberitahumu tentang penghulu segala sesuatu, tiang segala sesuatu, dan puncak segala sesuatu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Rasulullah.’ “Pokok segala urusan adalah Islam, pilarnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Beliau bersabda, ‘Maukah kamu jika aku memberitahumu raja dari seluruh itu?’ Aku berkata, ‘Dengan senang hati, wahai Nabi Allah.’ Kemudian Rasulullah memegang mulut Mua’adz seraya bersabda, ‘Jagalah (tahanlah) mulutmu seperti ini.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa karena kata-kata yang kami ucapkan?’ Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ibumu merasa kehilangan kamu, (celakalah) wahai Mu’adz. Tidaklah manusia dicebloskan ke dalam neraka dengan diseret di atas wajah atau dahinya kecuali disebabkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh mulut mereka’.”
Sumber: Belaian Bidadari di Alam Mimpi, Syaikh ‘Isham Hasanain, Pustaka At-Tibyan, Cetakan 1 2008
www.KisahMuslim.com
Minggu, 15 Januari 2012
Selektif Memilih Teman
Allah عز و جل berfirman:
(الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقون)
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zukhruf: 67).
Dalam ayat ini, Allah Ta'ala mengabarkan bahwa teman pada hari kiamat ada dua macam. Pertama, teman yang menjadi penolong di depan mahkamah akhirat. Kedua, teman yang bakal menjadi musuh di hadapan Allah.
Teman yang pertama ini, artinya bahwa persahabatan di dunia menjadi sebab kita mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
(المرء على من أحب)
"Seorang akan bersama siapa yang ia cintai pada hari kiamat kelak".
Sedangkan teman kedua, lantaran pertemanan itu kita harus mengecap murka dan siksa Allah عز و جل. Persahabatan tipe keduan, kelak saat berhadapan dengan-Nya, pelakunya akan saling tuding siapa biang kecelakaan tersebut.
Tidak dipungkiri, sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Tuntutan fitrah dari makhluk hidup adalah lingkungan dan pergaulan keseharian. Dari sinilah kebanyakan karakter dan sifat manusia terpola. Jika lingkungan pergaulan baik, akan terbentuk karakter dan sifat yang terpuji. Namun jika tidak, akan terpola tabiat dan kepribadian yang buruk. Artinya, dalam pergaulan ini, manusia dapat dipastikan memilki teman untuk saling berbagi, bertukar pikiran dan sebagainya.
Dalam perspektif Islam, teman memiliki peran tidak kecil dalam pembentukan pribadi dan karakter. Sebagai agama universal, Islam mengatur adab dan batasan dalam pergaulan. Karena begitu besar dampak bagi seseorang akibat salah bergaul. Demikian pula begitu banyak manfaat yang bisa dipetik melalui pergaulan dengan teman yang baik.
Lihatlah, banyak yang terjerembab dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan lantaran bergaul dengan teman-teman yang jahat. Tapi banyak pula yang mendapat hidayah disebabkan pergaulan yang baik.
Dalam hadits, Rasullullah صلى الله عليه و سلم menyinggung dampak seorang teman itu: “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, baik engkau membeli atau tidak, engkau pasti akan mendapat baunya yang harum. Sementara pandai besi ia akan membakar bajumu atau engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Faidah dari hadits ini, bahwa bergaul dengan teman yang shalih memiliki 2 kebaikan:
Kita akan menjadi baik, atau memperoleh kebaikan yang dilakukan teman kita. Sedang bergaul dengan teman jahat juga mempunyai 2 keburukan: Kita menjadi jelek, atau kita ikut keciprat kejelekan yang dilakukan teman kita.
Bahkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم menjadikan teman sebagai patokan bagi baik buruknya agama seseorang. Beliau bersabda:
( المرء على دين خليله، فالينظر أحدكم من يخالل )
"Seseorang sesuai agama temannya, maka hendaknya seseorang di antara kamu melihat kepada siapa dia bergaul.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim).
Artinya, kalau mau pilih teman, perhatikan dengan siapa orang itu bergaul.
Olehnya, para salaf banyak berpesan, "Hati itu lemah, sedang syubhat kencang menyambar". Karena kelemahannya, pengaruh kejelekan lebih mudah merasuki karakter kita.
Inilah alasan mengapa ulama Ahlus Sunnah memberi warning dari bergaul dengan para penyeru bid’ah dan pengekor hawa nafsu. Karena lambat laun kita akan terseret masuk dalam kesesatan mereka. Dan ini merupakan satu tindakan preventif terhadap bahaya lingkungan pergaulan dan agar kita selamat dari pengaruh buruknya.
Ketahuilah, ternyata teman juga merupakan sumber penyesalan abadi di hari kiamat. Renungkan firman Allah عز و جل berikut ini:
( و يوم يعض الظالم على يديه يقول يا ليتني اتخذت مع السول سبيلاً* يا ويلتى ليتني لم أتخذ فلاناً خليلاً * لقد أضلني عن الذكر بعد إذ جاءني، و كان الشيطان للإنسان خذولاً )
“Dan ingatlah hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata: Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besar bagiku! Kiranya dulu aku tidak mengambil si fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran sesudah Al-Quran itu datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29).
Di sini Allah عز و جل mengabarkan kondisi seorang hamba yang malang, rusak lantaran salah bergaul. Ia hanya bisa mengutuki dirinya dan menyesali nasib. Sayangnya penyesalan saat itu sudah tidak berguna.
Terakhir, teman sejati itu adalah teman yang selalu mendorong kita berbuat kebajikan, mengingatkan setiap kekeliruan dan selalu memohon kebaikan bagi sahabatnya. Sedang kawan yang buruk adalah kawan yang selalu menyeru pada jalan keburukan dan mendiamkan kesalahan yang kita kerjakan. Maha benar Allah dalam kitab-Nya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zukhruf: 67). Wallahu a'lam.
Rappung Samuddin Lc.
Makassar, 23 Juli 2009.
Sabtu, 14 Januari 2012
Jalan Istiqamah
Di dalam surat Al-Fatihah yang selalu kita baca dalam shalat, terdapat kalimat “ihdinash-shiratal mustaqim” adalah kalimat yang sangat pendek namun memiliki makna yang sangat mendalam. Kalimat ini merupakan permohonan kepada Allah untuk menunjukkan ke jalan yang lurus, melanggengkan hidayah kepada diri kita. Karena kita butuh hidayah yang terus menerus untuk mendapatkan keselamatan. Mendapatkan hidayah itu sulit, dan mempertahankan hidayah, itu lebih sulit lagi. Istiqamah di atas yang haq, di atas sunnah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, butuh kepada kesabaran, butuh kepada kekuatan ilmu, karena fitnah Terlebih di zaman sekarang ini sangat berat.
Istiqamah adalah sesuatu yang paling agung di sisi Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS Al-Fuslihat : 30)
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku dengan suatu kata yang tidak akan aku tanyakan kepada selain engkau.”
Rasulullah bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakan aku beriman kepada Allah kemudian istiqamah” (HR Bukhari)
Kajian ini secara ringkas menjelaskan kiat-kiat untuk menuju jalan istiqamah. Kajian yang sangat bermanfaat sebagai bimbingan dan peringatan kepada kita dalam berpegang teguh kepada ajaran agama yang haq untuk meraih keselamatan dunia, dan terlebih lagi keselamatan di akhirat kelak.
Kajian ini secara ringkas menjelaskan kiat-kiat untuk menuju jalan istiqamah. Kajian yang sangat bermanfaat sebagai bimbingan dan peringatan kepada kita dalam berpegang teguh kepada ajaran agama yang haq untuk meraih keselamatan dunia, dan terlebih lagi keselamatan di akhirat kelak.
Oke
Don't say HELLO ♥ Say ASSALAMUALAIKUM .
Don't say THANKS ♥ Say JAZAKALLAH KHAIRAN .
Don't say TAKE CARE , BYE ♥ Say FII AMANILLAH .
Don't say GREAT ♥ Say MASYAALLAH .
Don't say OKAY ♥ Say INSYAALLAH .
Don't say I AM FINE ♥ Say ALHAMDULILLAH .
Don't say WOW ♥ Say SUBHANALLAH.
Jumat, 13 Januari 2012
Doa Sehari Hari - Doa Hisnul Muslim
Whole Item | Format | Size |
MurottalDoaSehariHari_vbr.m3u | VBR M3U | |
MurottalDoaSehariHari_vbr_mp3.zip | VBR ZIP |
Audio Files | VBR MP3 | Ogg Vorbis |
Doa Hisnul Muslim - 01 muqaddimah | ||
Doa Hisnul Muslim - 02 doa bangun tidur | ||
Doa Hisnul Muslim - 03 doa masuk kamar mandi | ||
Doa Hisnul Muslim - 04 doa keluar kamar mandi | ||
Doa Hisnul Muslim - 05 doa setelah wudhu | ||
Doa Hisnul Muslim - 06 doa keluar rumah | ||
Doa Hisnul Muslim - 07 doa masuk rumah | ||
Doa Hisnul Muslim - 08 doa pergi ke masjid | ||
Doa Hisnul Muslim - 09 doa masuk masjid | ||
Doa Hisnul Muslim - 10 doa keluar masjid | ||
Doa Hisnul Muslim - 11 doa ketika mendengarkan adzan | ||
Doa Hisnul Muslim - 12 doa istiftah | ||
Doa Hisnul Muslim - 13 doa istiftah ketika shalat qiyamu | ||
Doa Hisnul Muslim - 14 doa ruku | ||
Doa Hisnul Muslim - 15 doa bangun dari ruku' | ||
Doa Hisnul Muslim - 16 doa sujud | ||
Doa Hisnul Muslim - 17 doa sujud ketika shalat qiyamul l | ||
Doa Hisnul Muslim - 18 doa sujud tilawah | ||
Doa Hisnul Muslim - 19 doa duduk di antara dua sujud | ||
Doa Hisnul Muslim - 20 doa tasyahud | ||
Doa Hisnul Muslim - 21 doa setelah tasyahud akhir sebelu | ||
Doa Hisnul Muslim - 22 dzikir setelah shalat | ||
Doa Hisnul Muslim - 23 doa shalat istikharah | ||
Doa Hisnul Muslim - 24 dzikir pagi dan petang | ||
Doa Hisnul Muslim - 25 doa ketika di malam hari | ||
Doa Hisnul Muslim - 26 doa sebelum tidur | ||
Doa Hisnul Muslim - 27 doa apabila merasa takut dan kese | ||
Doa Hisnul Muslim - 28 doa qunut witir | ||
Doa Hisnul Muslim - 29 doa setelah shalat witir | ||
Doa Hisnul Muslim - 30 doa perlindungan kepada anak | ||
Doa Hisnul Muslim - 31 doa penawar hati yang duka | ||
Doa Hisnul Muslim - 32 doa orang yang mengalami kesulita | ||
Doa Hisnul Muslim - 33 doa untuk kesedihan yang mendalam | ||
Doa Hisnul Muslim - 34 doa apabila ada orang meninggal d | ||
Doa Hisnul Muslim - 35 mengajari orang yang akan meningg | ||
Doa Hisnul Muslim - 36 doa memejamkan mayat dan takziyah | ||
Doa Hisnul Muslim - 37 doa dalam shalat jenazah | ||
Doa Hisnul Muslim - 38 doa untuk mayat anak kecil | ||
Doa Hisnul Muslim - 39 doa untuk belasungkawa | ||
Doa Hisnul Muslim - 40 doa ketika memasukkan mayat ke li | ||
Doa Hisnul Muslim - 41 doa setelah mayat dimakamkan | ||
Doa Hisnul Muslim - 42 doa ziarah kubur | ||
Doa Hisnul Muslim - 43 doa apabila ada angin ribut | ||
Doa Hisnul Muslim - 44 doa ketika ada halilintar | ||
Doa Hisnul Muslim - 45 doa untuk minta hujan | ||
Doa Hisnul Muslim - 46 doa apabila hujan turun | ||
Doa Hisnul Muslim - 47 doa melihat bulan tanggal satu | ||
Doa Hisnul Muslim - 48 doa berbuka puasa | ||
Doa Hisnul Muslim - 50 doa sebelum makan | ||
Doa Hisnul Muslim - 51 doa apabila lupa berdoa sebelum m | ||
Doa Hisnul Muslim - 52 doa setelah makan | ||
Doa Hisnul Muslim - 53 doa tamu kepada orang yang member | ||
Doa Hisnul Muslim - 54 doa apabila melihat permulaan bua | ||
Doa Hisnul Muslim - 55 doa pengantin kepada dirinya | ||
Doa Hisnul Muslim - 56 doa kepada pengantin | ||
Doa Hisnul Muslim - 57 doa ketika bersin dan jawabannya | ||
Doa Hisnul Muslim - 58 doa pelebur dosa majelis | ||
Doa Hisnul Muslim - 59 tuntunan dan doa ketika marah | ||
Doa Hisnul Muslim - 60 bacaan apabila mencintai orang ka | ||
Doa Hisnul Muslim - 61 doa naik kendaraan dan bepergian | ||
Doa Hisnul Muslim - 63 doa masuk pasar | ||
Doa Hisnul Muslim - 64 doa agar bisa melunasi utang | ||
Doa Hisnul Muslim - 65 doa musafir kepada orang yang dit | ||
Doa Hisnul Muslim - 66 doa orang mukim kepada musafir | ||
Doa Hisnul Muslim - 67 doa musafir ketika kembali | ||
Doa Hisnul Muslim - 68 doa apabila ada sesuatu yang meny | ||
Doa Hisnul Muslim - 69 doa apabila ada sesuatu yang tida | ||
Doa Hisnul Muslim - 70 doa talbiyah | ||
Doa Hisnul Muslim - 71 doa antara rukun yamani dan hajar | ||
Doa Hisnul Muslim - 72 doa ketika di atas bukit shafa da | ||
Doa Hisnul Muslim - 73 doa pada hari arafah | ||
Doa Hisnul Muslim - 74 doa ketika di masy_aril haram |







